Metode Waterfall: Pengertian, Proses hingga Kelebihannya

  1. Home
  2. »
  3. Pengertian
  4. »
  5. Metode Waterfall: Pengertian, Proses hingga Kelebihannya
Metode Waterfall Pengertian, Proses hingga Kelebihannya

Teroopong – Apakah Anda familiar dengan istilah “Waterfall” dalam pengembangan perangkat lunak? Artikel ini akan membahas segala hal yang perlu Anda ketahui tentang metode waterfall, mulai dari pengertian hingga kelebihannya.

Apa Itu Metode Waterfall?

Metode Waterfall, juga dikenal sebagai Software Development Life Cycle (SDLC), adalah salah satu pendekatan dalam pengembangan perangkat lunak yang mengikuti pola aliran seperti air terjun. Dalam metode ini, tahapan pengembangan dilakukan secara berurutan, mengalir dari tahap satu ke tahap berikutnya.

Pendekatan Waterfall adalah salah satu model pertama yang digunakan dalam SDLC, diperkenalkan pada Symposium on Advanced Programming Method for Digital Computers pada tahun 1956 oleh Herbert D. Benington. Model ini kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh Benington pada tahun 1983, dan mulai diterapkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dengan enam fase Waterfall yang mencakup Preliminary Design, Detailed Design, Coding and Unit Testing, Integration, dan Testing.

Baca juga:   Cara Membuat Website yang SEO Friendly

Bagaimana Proses Metode Waterfall?

Nama “Waterfall” dipilih karena model pengembangannya menyerupai aliran air terjun, di mana setiap tahapan harus diselesaikan sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya.

Dalam metode Waterfall, proses pengembangan perangkat lunak dibagi menjadi beberapa tahap, seperti analisis kebutuhan, perancangan, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan. Setiap tahapan memiliki target dan deliverables yang harus dicapai sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya. Dengan pendekatan ini, tidak ada kemungkinan untuk kembali ke tahapan sebelumnya setelah tahapan tersebut selesai.

Baca juga:   Contoh Promosi Produk: Meningkatkan Penjualan dengan Efektif

Tahapan Metode Waterfall

Tahapan dalam metode ini meliputi:

  1. Requirements Analysis (Analisis Kebutuhan): Tahap ini melibatkan identifikasi dan pemahaman yang mendalam terhadap kebutuhan pengguna dan pemangku kepentingan.
  2. Design (Perancangan): Persyaratan yang telah dikumpulkan diterjemahkan menjadi desain perangkat lunak yang spesifik.
  3. Implementation (Implementasi): Proses pengkodean atau implementasi aktual dari software berdasarkan desain yang telah ditentukan sebelumnya.
  4. Testing (Pengujian): Software diuji untuk memastikan bahwa itu berfungsi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan sebelumnya.
  5. Deployment and Maintenance (Deploy dan Pemeliharaan): Tahap pemeliharaan terjadi setelah software diluncurkan dan digunakan oleh pengguna.
Baca juga:   Proxy Server: Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, Jenis, Untung Rugi

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan metode Waterfall antara lain memberikan kemampuan untuk departementalisasi dan kontrol yang efektif. Namun, model ini kurang fleksibel dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Perubahan di tengah jalan sulit dilakukan, karena alur linear Waterfall memaksa developer untuk sesuai dari awal hingga akhir.

Meskipun begitu, Waterfall masih menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam proyek-proyek dengan kebutuhan yang jelas dan terbatasnya perubahan. Alternatif lain seperti Agile Development lebih fleksibel dan adaptif dalam menanggapi perubahan.

Artikel Terkait dan
Bisnis Hebat Dimulai dari Sini!

Isi Formulir Sekarang untuk Layanan Website, Branding, dan Medsos yang Profesional.

Daftar Isi